Friday, February 25, 2011

pada jiwa yang damai

suatu sore,
diantarkan dengan debaran hati yang sangat menderu aku berangkat ke rumah salah satu sahabatku..
aku tau ini adalah saat yang penting dan tentu saja genting.. 
aku hanya ingin semua baik-baik saja meski aku ragu akankah aku dapat menyelesaikan semua yang telah aku mulai ...
tak ada rencana untuk membela diri, apalagi untuk melakukan penyangkalan terhadap apapun..
hanya saja aku tidak memperhitungkan jiwa-jiwa yang penuh kedamaian ini juga kan ikut terluka ketika aku tidak memperpanjang pemikiranku dalam bertindak...
yang ada hanyalah debaran jatung yang luar biasa... 
Tuhan... baru kali ini aku sangat ketakutan akan kehilangan orang-orang yang penting dalam hidupku.. keluargaku...



sesampainya disana..
seperti biasa aku disambut dengan wajah penuh senyum dan perasaan kasih sayang yang selalu berlimpah untukku..
jiwa-jiwa yang penuh kedamaian inilah yang selalu menemani kami kemana pun dan dalam kondisi apa pun...  
ketika dunia ini sudah berubah menjadi lautan airmata yang menyesakkan 
demikian juga ketika dunia berubah menjadi tempat yang terlalu ramah
pada jiwa-jiwa penuh kedamaian inilah kami sering berpaling 
ketika dunia sudah terlalu berat untuk dijadikan sandaran.. 


ketika bercakap, tidak ada kesan menghakimi, menyudutkan apalagi menyalahkan...
niat kami hanya sebagai saudara yang ingin saling mengingatkan..
karena apapun yang terjadi kami tidak akan pernah rela jika kalian berpisah.. tidak akan pernah ikhlas..
jangan ada rasa dendam, karena hanya akan memelihara perasaan yang seharusnya sudah tidak ada...
bahkan seharusnya tidak usah ada..
tidak ada campur tangan Tuhan disana ...
yang ada hanyalah bungkusan indah dari sebentuk iblis yang memenjarakan pikiran dan melebarkan angan agar dapat merubah setiap keputusan yang sudah selesai dibuat untuk setiap hamba-Nya..
lalu kulihat ada sebutir airmata yang terurai dari panjangnya kasih sayang dari hatinya...


Tuhan...
pada jiwa-jiwa penuh kedamaian inilah kugoreskan sebentuk samurai
pada air mata itulah aku berharap bahwa sahabatku ini akan tetap menemaniku sedalam apa pun aku terpuruk dalam kesedihan
pada jiwa-jiwa inilah aku berhutang segala maaf dan hidupku untuk memperbaiki kesalahanku
pada jiwa-jiwa inilah seharusnya aku mempercayakan hidupku
merelakan mereka untuk menjajarkan hati dan mengungkapkan hanya kejujuran pada mereka..


Tuhan ...
berikanlah saudaraku ini keteguhan hati untuk selalu dapat bersamaku dalam suka dan sedih
menemaniku dalam segala terpuruk dan kesenanganku
berilah mereka kebahagiaan dan kesabaran dalam keikhlasan dalam menjalani hidup bersama yang hanya boleh Kau pisahkan ...


Tuhan..
terimakasih pada Mu yang telah mengutus mereka sebagai malaikat pelindungku
sebagai pengingat pada kebenaran
sebagai alarm untuk selalu sabar dalam situasi apapun
sebagai cambuk agar bisa lebih bermanfaat bagi mahluk lain 
terutama pada hidup dan kehidupanku sendiri...



No comments:

Karmila oleh Farid Hardja

Ku kenal dikau lalu jatuh cinta bagai pertama Dan ku cumbu dikau penuh kasih mesra bagai cerita Kau berulangtahun, ku tuang minuman ke dal...